Sabtu, 20 November 2010

Tentang Kebenaran Yang Hilang ala Fouda (Bag 1)

Benarkah Khilafah?

Ada sebuah buku yang cukup menarik bagi saya. Judulnya “Kebenaran Yang Hilang”, ditulis oleh Farag Fouda, seorang aktivis dan peneliti Mesir. Buku ini membahas mengenai khilafah Islam. Berbagai pertanyaan diajukan, berbagai “fakta sejarah” tentang khilafah diungkapkan dalam buku ini. Saya memberi tanda kutip pada kata “fakta sejarah”, karena banyak kalangan menilai bahwa “fakta-fakta” yang disajikan dalam buku ini adalah cerita bohong, lemah, atau tidak dapat dipercaya.

Sebuah contoh yang sering diungkapkan untuk membantah kebohongan “fakta” itu adalah mengenai kematian Utsman ra. Dalam buku ini Fouda mengatakan bahwa pembunuhan atas Utsman ra. telah direncanakan. Bahkan oleh para sahabat-sahabat Nabi yang mulia. Hingga peludahan jenazah Utsman, keengganan umat Islam saat itu untuk menyalatkan Utsman, pematahan persendian jenazah Utsman, dan seterusnya. Fouda mengaku bahwa ia memperoleh “fakta” itu dari kitab-kitab utama umat Islam, seperti karya At Thabari dan Ibn Saad. Namun hal ini segera dibantah oleh banyak kalangan, yang menunjukkan bahwa baik At Thabari maupun Ibn Saad mempunyai banyak riwayat berkaitan dengan peristiwa itu. Dan Fouda mengambil riwayat yang lemah sebagai sumber “fakta” nya. Itu adalah salah satu contoh isi dari buku Kebenaran Yang Hilang. Yang jelas buku ini sangat kontroversial bagi banyak kalangan. Dan justru karena itulah rasanya pantas kita menelaah kembali pemikiran Fouda. Tulisan ini tidak bermaksud membahas semua pemikiran Fouda dalam bukunya tersebut. Namun akan mengambil beberapa poin yang bagi saya masih menjadi tanda tanya.

Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak saya ketika membahas mengenai Khilafah Islam adalah, benarkah Islam telah menerapkan sistem kekhalifahan? Atau, jika memang sudah, benarkah masa kekhalifahan Islam terbentang sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga berakhirnya Kekhalifahan Utsmaniyah?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama mestilah kita pahami dulu tentang pengertian sistem kekhalifahan. Menurut Syeikh Abdul Qadim Zallum, Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengemban dakwah Islam ke segenap penjuru dunia.

Untuk menjadi seorang khalifah ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Menurut Imam Abu Zakariya Muhyidin Yahya bin Syaraf An Nawawi ada sebelas syarat yang harus dipenuhi, yaitu ; Muslim, mukallaf, merdeka, laki-laki, berasal dari suku Qurays, mujtahid, pemberani, tajam pemikirannya, tidak tuli, tidak buta, dan tidak bisu. Sedangkan menurut Syeikh Abdul Qadim Zallum syarat-syarat menjadi seorang khalifah ada tujuh, dan ini disebut sebagai Syarat in’iqad. Syarat tersebut adalah Muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka dan mampu melaksanakan amanat khalifah. Jika kita lihat dari tujuh syarat yang diajukan Syeikh Abdul Qadim Zallum, yang ternyata begitu umum, bisa dikatakan bahwa siapapun dapat menjadi khalifah, dengan syarat telah dibai’at uleh umat. Berbeda dengan Imam An Nawawi, Syeikh Abdul Qadim Zallum mengatakan bahwa seorang khalifah tidak harus seorang mujtahid, pemberani, keturunan Quraisy, tajam pemikirannya.

Tentang keturunan Quraisy misalnya. Kepemimpinan harus di tangan Quraisy disandarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Abi Syaibah, Al Bukhari, Muslim, dan lain-lain, yang berbunyi “Para Imam itu dari suku Quraisy” dan “Urusan (kekuasaan) ini senantiasa di tangan suku Quraisy selama masih ada dua orang diantara mereka yang masih hidup”. Disini Fouda membantahnya dengan mengatakan bahwa persyaratan ini (Quraisy) adalah sesuatu yang “aneh”. Lebih lanjut Fouda mengatakan bahwa “syarat ini sengaja diletakkan untuk menjustifikasi kepemimpinan kaum Umayyah dan Abbasiyah”. Dari pernyataan ini Fouda jelas-jelas meremehkan hadits nabi. Bahkan yang shahih sekalipun! (Inilah yang membuat banyak kalangan menjadi marah)

Sementara itu Syeikh Abdul Qadim Zallum menengahi dengan menyatakan bahwa hadits-hadits tentang kepemimpinan Quraisy ini merupakan hadits-hadits yang berbentuk ikhbar (informasi), dan bukan berbentuk thalab (tuntutan). Bentuk ikhbar (informasi) walaupun mengandung pengertian tuntutan (thalab), tetapi tidak dianggap tuntutan secara pasti selama tidak dibarengi dengan suatu qorinah (indikasi) yang menunjukkan penegasan. Hadits-hadit tersebut tidak menunjukkan qorinah, sehingga dapat dikatakan bahwa hadits-hadits tersebut menunjukkan perintah sunnah, bukan wajib. Meskipun kekuasaan selalu berada di tangan orang Quraisy, namun tidak berarti orang selain Quraisy dilarang menduduki kekuasaan.

Demikian pula dengan syarat bahwa seorang khalifah harus mujtahid, pemberani, ataupun politikus ulung. Syeikh Abdul Qadim Zallum mengatakan bahwa syarat ini hanyalah syarat afdhaliyah. Artinya, diusahakan memang seorang khalifah mempunyai sifat demikian. Akan tetapi hal ini tidaklah mutlak. Kalaupun tidak memiliki keutamaan-keutamaan tersebut, selama telah memenuhi syarat in’iqad, maka ia dapat menjadi khalifah.

Seperti yang saya sebutkan di atas, seseorang sah menjadi seorang khalifah manakala ia telah dibaiat oleh umat Muslim. Yang menjadi pertanyaan saya kemudian adalah, jika seorang khalifah memang harus dipilih oleh umat, dibai’at oleh umat Islam, bagaimana jika ada umat Islam yang tidak puas atas pemba’iatan tersebut? Kalau kita merunut pada sejarah Islam, bagaimana dengan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Muawiyah terhadap Ali bin Abi Thalib k.w? Bagaimana dengan pembunuhan terhadap Khalifah Hasan Al Askari oleh Yazid bin Muawiyah, yang kemudian menahbiskan dirinya sebagai Khalifah? Bagaimana dengan kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, yang notabene kekhalifahan berdasarkan keturunan, dan disertai dengan pertumpahan darah yang luar biasa pada umat muslim?

Pertanyaan-pertanyaan itulah diantaranya yang diajukan oleh Fouda dalam buku ini lewat pemaparan “fakta-fakta sejarah” yang mungkin jarang kita ketahui. Termasuk mengenai semua penyimpangan, kehidupan hedonis para khalifah, penghalalan khamr, foya-foya, penyimpangan seksual, penghalalan musik-musik dan tarian-tarian erotis, pertumpahan darah terhadap sesama muslim, yang jika memang itu benar, maka patutlah menjadi bahan renungan kita kembali. Atau katakanlah bahwa semua yang dikatakan Fouda adalah sekedar bualan belaka, tetap saja kita layak untuk berpikir. Bahwa Muawiyah ra. adalah salah seorang sahabat Nabi Saw. Bahwa Ali bin Abi Thalib kw. adalah salah seorang kerabat Nabi yang paling dicintainya, pintu ilmu, salah seorang ulama diantara sahabat Nabi. Mengapa kedua orang shaleh ini harus bertikai? Atau tentang Ummul Mukminin Aisyah ra. Beliau adalah salah seorang istri Nabi yang paling dicintai Nabi, dalam ilmunya, cerdas, menjadi rujukan umat muslim. Mengapa harus terlibat peperangan melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib? Jika memang semua berpegang pada keshalehan itu, tentu semua perbedaan akan diselesaikan dengan cara yang indah.

Kemudian tentang kekhalifahan Umayyah, Abasiyah, dan kekhalifahan seterus-seterusnya. Kekuasaan kekhalifahan berpindah dari seorang khalifah kepada putranya, kepada saudaranya, kepada menantunya, dan begitu seterusnya. Benarkah kekhalifahan seperti itu? Walaupun dibai’at! Tetapi jika yang membai’at adalah keluarganya sendiri, pengikutnya sendiri, tidak melibatkan suara umat Islam lainnya. Sekali lagi, benarkah khilafah? Seolah-olah hanya berpindah-pindah dari tangan kanan ke tangan kiri, dari tangan kiri ke tangan kanan, dan seterusnya. Semua ini adalah tentang POLITIK dan KEKUASAAN. Dan jika berbicara tentang dua hal tersebut, mulai masa kapan pun dan sampai kapan pun akan selalu terjadi penyimpangan. Lalu, jika demikian, bolehkah saya mengatakan, bahwa Kekhalifahan Islam yang sebenarnya hanyalah terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin? Sedangkan yang lainnya adalah sistem kerajaan yang terbungkus oleh istilah kekhalifahan, yang terkaburkan oleh pembai’atan semu?

Pada akhirnya yang terjadi adalah seperti yang dikemukakan oleh Nurcholis Madjid dalam komentarnya yang dimuat di majalah Tempo, yaitu bahwa sejarah tidak pernah suci/sakral. Bahwa kita berusaha mewujudkan sesuatu yang ideal, itu IYA. Bahwa kemungkinan besar keadaan ideal itu tak pernah terjadi, itu juga IYA. Sejarah manusia tak akan pernah lepas dari kekhilafan dan penyimpangan. Para Nabi dan Rasul pun pernah dikoreksi oleh Allah, meskipun tidak berarti bahwa mereka telah berbuat dosa. Akan tetapi, sesuai fitrah kemanusiaannya mereka tetap memiliki kelemahan. Atau bisa dikatakan, sempurna tetapi tidak sempurna.

Namun ada satu hal lagi yang menggelitik pikiran saya ketika membaca pemikiran Fouda ini. Rasanya sungguh mengherankan untuk orang ukuran Fouda, seorang berpendidikan tinggi, aktivis, peneliti, pembicara di berbagai kajian ilmiah, yang beranggapan bahwa ketika umat Islam menghendaki tegaknya kembali sistem khilafah, maka itu termasuk pula segala penyimpangan yang terjadi. Ini adalah argumen utama Fouda tentang alasannya menolak sistem khilafah. Bahwa khilafah mengandung banyak penyimpangan dan kesalahan. Setiap orang yang mau berpikir sedikit saja, rasanya akan sepakat bahwa jika seseorang menghendaki sesuatu yang ideal, tentu itu adalah sesuatu yang sebaik mungkin, sesempurna mungkin. Tanpa kesalahan, cacat, atau penyimpangan. Sama seperti Islam itu sendiri. Islam itu sempurna. Islam itu ideal. Bahwa umat Islam masih terbelakang, miskin, bodoh, tidak lantas menjadikan Islam cacat. Yang cacat adalah umatnya, bukan agamanya. Ini yang secara konyol dilupakan oleh Fouda.

Sebagai penutup diskusi ini, sebuah catatan menarik yang ditulis oleh Fouda adalah bahwa periode Islam selesai/berakhir seiring dengan wafatnya Rasulullah Saw. Periode selanjutnya adalah periode Umat Islam. Apa artinya? Islam diterapkan secara murni, kaffah, hanya terjadi pada periode dimana Rasulullah masih berada di tengah-tengah umat. Karena setiap ada penyimpangan maka Allah akan langsung mengoreksi melalui Rasul-Nya. Akan tetapi setelah Rasulullah wafat, maka aturan kehidupan selanjutnya mengalami penafsiran berbeda-beda. Cara-cara penerapan Islam secara rigid, persis seperti ketika Rasulullah masih hidup tidak lagi relevan/tepat diterapkan di masa-masa setelahnya, yang notabene dinamika kehidupan yang terjadi lebih kompleks. Ini juga berarti bahwa kemungkinan terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan Islam sangat ada. Dan itulah mengapa sejarah umat Islam pun tidak suci (terbebas dari penyimpangan). Karena umat Muslim tidak sesempurna Islam itu sendiri. Karena manusia membawa predikat sebagai makhluk yang senantiasa salah dan lupa.

Satu lagi, apa yang saya tulis disini bukan merupakan upaya untuk meragukan kapasitas para sahabat, mempertanyakan kesalehan para sahabat, menolak Periode Emas Kekhilafahan Islam, tetapi hanya sebagai sebuah diskusi. Bahwa kita harus menjaga keyakinan kita tentang Islam itu iya. Dan justru karena itulah kita berusaha mendudukkan persoalan secara berimbang. Tidak berpikir secara dogmatis-literer, ataupun liberalis-sekuler. Tapi kita berusaha menemukan persamaan di antara perbedaan yang ada, untuk menemukan kebenaran sejati. Untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.


Tentang Kebenaran Yang Hilang ala Fouda (Bag 1) selesai...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar