Kamis, 20 Desember 2012

Istiqomah

Suatu hari Abu Nawas berjumpa dengan kenalannya. Mereka lalu bercakap-cakap. Abu Nawas ditanya, “Wahai Abu Nawas, berapa usiamu sekarang?” Abu Nawas menjawab, “Usiaku 50 tahun”. Kemudian mereka pun melanjutkan percakapannya. Beberapa tahun kemudian mereka berjumpa kembali. Teman Abu Nawas ini kembali bertanya,”Wahai Abu Nawas, berapa usiamu sekarang?” Dan sekali lagi Abu Nawas menjawab, “Usiaku 50 tahun”. Temannya pun heran, “Bagaimana kau ini! Beberapa tahun yang lalu aku tanya usiamu, engkau menjawab 50 tahun. Sekarang pun juga kau jawab 50 tahun?!” Dengan tenang Abu Nawas menjawab, “Aku konsisten”.

Cerita ini cukup menggelitik saya. Kendati konyol, ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik di dalamnya. Yaitu tentang konsistensi, atau bisa kita sebut pula ke-istiqomahan. Banyak sekali sekarang ini kita jumpai orang-orang yang tidak dapat menjaga keistiqomahan. Mereka sering sekali berganti-ganti sikap / pandangan, tidak punya prinsip, hanya ikut arus. Atau kalau orang Jawa bilang “isuk dhele sore tempe” (pagi hari masih berupa kedelai, sore hari sudah berubah menjadi tempe). Artinya, sikap seseorang tersebut cepat sekali berubah.

Dalam Islam, keistiqomahan ini penting, terutama dalam kaitannya dengan ibadah. Kita dianjurkan untuk melakukan sebuah amal, yang walaupun dalam pandangan manusia nilainya kecil, tetapi terus dilakukan / kontinyu (istiqomah), daripada sekali kita melakukan amal kebaikan yang nilainya besar menurut pandangan kita, tetapi setelah itu kita tidak pernah lagi melakukan amal kebaikan lagi.

Menjaga konsistensi ini ternyata bukan perkara mudah. Banyak sekali halangan di depan kita. Bila kita tidak kuat iman, niscaya kita akan terbawa arus. Mungkin karena itulah dalam surat Al Ashr Allah menyampaikan “Dan saling menasihatilah dalam melaksanakan kebaikan / menegakkan yang hak, dan saling menasihatilah untuk menetapi kesabaran”. Ayat ini menunjukkan bahwa untuk melaksanakan suatu kebaikan harus dilakukan dengan sabar, kontinyu / terus menerus. Dan agar bisa terus istiqomah maka kita dianjurkan untuk “saling menasihati”. Memang sudah menjadi sifat kita sebagai manusia bahwa hati kita ini mudah berbolak balik. Kadang hati kita begitu mudah menghadap Allah, kadang begitu mudah berbuat maksiat. Maka agar hati kita tetap terjaga terus dalam koridor perlu adanya “alarm” yang mengingatkan, yang membangkitkan semangat kita lagi agar  tetap berada di jalan yang benar. Semoga bermanfaat.

Minggu, 17 Juni 2012

Kepemimpinan

Suatu hari salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Dzar Al Ghifari r.a berkata kepada Rasulullah Saw. agar diberikan sebuah jabatan. Sambil tersenyum Nabi Saw. menolak keinginan Abu dzar tersebut dengan alasan Abu Dzar terlalu lemah untuk memangku sebuah jabatan. Lemah disini berarti bahwa Abu dzar memiliki sifat yang terlalu lemah lembut, pemaaf, dan terlalu santun. Padahal kadangkala seorang pemimpin dituntut untuk bertindak keras, baik untuk menghadapi musuh ataupun untuk menegakkkan suatu aturan agar sesuai dengan perintah Allah SWT.

Dari kisah di atas dapat kita lihat, kendati Abu Dzar Al Ghifari r.a adalah salah seorang sahabat terdekat Nabi, seorang yang sangat dihormati di kalangan sahabat Nabi, tetapi tidak serta merta nabi Saw menuruti keinginan Abu Dzar. Beliau melihat, meneliti, dan menganalisis dengan sungguh-sungguh mengenai kemampuan sahabatnya tersebut. Beliau yang telah mengenal sahabatnya itu dengan baik mengetahui kemampuan, kapabilitas, sifat-sifat yang ada dalam diri sahabatnya. Sehingga beliau dapat mengambil kesimpulan dan keputusan untuk memberi atau tidak memberikan jabatan kepada sahabatnya tersebut.

Pada dasarnya, jabatan bukanlah sesuatu yang diminta atau diperebutkan, melainkan dipercayakan. Jabatan / kepemimpinan merupakan amanah, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Imam Al Ghazali pernah menyatakan bahwa hal terberat dalam dunia ini adalah memikul amanah. Secara umum, amanah disini tentu saja bisa bermakna amanah / kepercayaan untuk melakukan suatu hal. Dan kepemimpinan adalah amanah yang lebih khusus dan lebih berat. Karena seorang pemimpin harus mengarahkan, memberi contoh, mengayomi, membimbing, dan memastikan bahwa orang-orang yang dipimpinnya melakukan tugas sebagaimana mestinya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Bahkan, karena beratnya amanah kepemimpinan itu, Khalifah Umar bin Al Khattab pernah menyatakan, jika sekiranya dalam masa kepemimpinannya ada seekor domba jatuh ke sungai, beliau takut jika Allah menanyakan hal itu kepada beliau dan meminta pertanggungjawabannya.

Maka sungguh sangat mengherankan jika sekarang kita lihat banyak orang memperebutkan jabatan. Mereka mencalonkan diri menjadi pemimpin, berkampanye, menggalang dukungan, bahkan dengan berbagai cara yang tidak semestinya, demi memperoleh jabatan yang diincarnya. Orang yang begitu berkeinginan untuk menjadi pemimpin, tak perduli bagaimana caranya, hampir pasti bisa dipastikan ketika ia terpilih menjadi pemimpin, memegang jabatan, ia akan melakukan hal-hal yang tidak semestinya, melakukan pelanggaran, kecurangan, meminta fasilitas yang berlebihan bagi dirinya, keluarga, atau siapapun yang diinginkannya, dalam bentuk apapun yang dikehendakinya. Naudzu billah.

Lantas, apakah berarti kita tidak boleh menduduki jabatan tertentu?

Tentu saja boleh. Tetapi ada persyaratan-persyaratan yang mesti dipenuhi. Ada dua pintu utama untuk menjadi pemimpin : Pertama, dipilih / diberi kepercayaan / amanah / tugas oleh umat dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misal ketakwaan, integritas, kapabilitas, kemampuan mempengaruhi, teliti, profesional, dan seterusnya. Kedua, mencalonkan diri, jika disertai niat yang tulus ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui upaya perbaikan atas hal-hal yang dianggap masih belum baik / benar, dan tidak ada orang lain yang mempunyai kapabilitas yang sama, yang bersedia menjadi pemimpin. Jika semua orang baik menolak menjadi pimpinan dengan alasan takut akan pertanggungjawabannya, maka hal itu justru akan menimbulkan kemungkinan terjadi dosa baru, karena hal tersebut berarti memberi peluang kepada orang-orang jahat untuk menduduki jabatan / menjadi pemimpin, yang kemungkinan besar juga akan membawa keadaan menjadi lebih buruk.

Intinya, menjadi pemimpin bukanlah sesuatu yang mesti diminta, tetapi dipercayakan. Jika kita memang diserahi amanah menjadi pimpinan / memegang jabatan tertentu, atau dengan terpaksa harus mencalonkan diri menjadi pimpinan, maka pastikan bahwa semua itu dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah, lakukan dengan cara yang benar, dan pertanggungjawabkan sesuai dengan keseharusannya.

Senin, 29 Agustus 2011

Ramadhan, Nasibmu dari Masa ke Masa



Kue,kue…bunga…taplak meja yang baru
Baju baru, motor, mobil, cincin dan gelang
Berapa puluh kali aku harus melihatnya
Pameran ajang kemewahan dan kebanggaan
Menjadi melamun dan diam kala kau tak punya uang

Jalan-jalan dibanjiri manusia
Muda-mudi bergandengan tangan, berbelanja
Padahal mereka bukan muhrim, … dan belum menikah…
Tahukah kau bahwa mereka juga masih berpuasa lo!
Bahkan tak pernah bolong, konon… 

Suasana itu yang senantiasa saya temui di bulan Ramadhan hari-hari terakhir. Semua orang sibuk menghabiskan uangnya di pusat-pusat perbelanjaan, di pasar-pasar. Memenuhi keinginan perut, ego, dan kesombongan. Mereka lupa bulan Ramadhan masih belum berakhir. Bukankah Ramadhan adalah bulan yang penuh pahala? Bukankah semestinya orang-orang di bulan itu saling berlomba untuk menambah amal ibadah mereka, kendati hanya tersisa beberapa hari? Bukankah hari-hari terakhir bulan Ramadhan adalah saat untuk menjemput Lailatul Qadr?

Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu nampaknya sudah menjadi usang, kuno. Orang tak merasa perlu lagi untuk mengikutinya. Orang-orang begitu bersemangat untuk menyambut bulan Syawal, yang berarti juga mengakhiri masa Ramadhan. Orang-orang lebih sibuk, lebih asyik menyambut bulan Syawal daripada memanfaatkan sisa Ramadhan. Seakan-akan Ramadhan adalah bulan yang penuh siksaan, kekangan. Seakan-akan tawaran kemurahan Allah di bulan itu merupakan bencana bagi manusia! Astaghfirullah…

Padahal, bukankah kita semua tahu, 1 Syawal, hari Iedul Fitri, adalah simbol kemenangan. Bahwa kita telah melewati ujian terberat umat manusia selama satu bulan. Ujian melawan hawa nafsu kita. Ujian yang tidak semua orang bisa melaluinya. Ramadhan sendiri juga simbol perjuangan melawan nafsu itu. Karena perjuangan yang sesungguhnya berlangsung setiap waktu, setiap detik. Bukan hanya di bulan Ramadhan. Ketika kita telah memenangkan sebuah simbol, maka kita akan memperoleh simbol pula. Simbol kemenangan, Iedul Fitri.

Tapi, benarkah kita telah memenangkan Ramadhan? Benarkah kita telah menaklukkan nafsu kita? Seberapa percaya-dirikah kita untuk mengatakan bahwa kita telah berhasil lulus dengan sempurna? Karena ketika kita telah yakin lulus dalam bulan Ramadhan, telah mengalahkan nafsu kita, maka sesungguhnya kita gagal total. Karena kita telah jatuh ke dalam kesombongan. Dan kesombongan adalah sesuatu yang sangat dibenci Allah. Alih-alih mendapat pembebasan dari api neraka, kita justru akan dilemparkan ke dalamnya!

Lalu pertanyaannya, apa yang orang-orang itu rayakan di akhir Ramadhan dan di awal Syawal? Kemenangan atas penaklukan hawa nafsu mereka? Benarkah sudah pantas? Bukankah semestinya akhir Ramadhan diisi dengan semakin tunduk kepada Allah, menjadi orang yang lebih tenang dan bijak, waspada terhadap tipu daya dunia? Bukankah akhir Ramadhan adalah saat-saat orang mencucurkan air mata seraya bertanya-tanya, akankah kita bertemu Ramadhan tahun depan? Siapkah kita, jika Ramadhan yang kita jalani sekarang adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita? Siapkah kita bertemu Rabb kita dengan membawa amal ibadah yang tidak seberapa? Itukah yang akan kita persembahkan untuk Kekasih kita?
Ya Allah, semoga Engkau mempertemukan kami dengan Ramadhan tahun depan.
Ya Allah, berilah petunjuk senantiasa kepada hamba-Mu yang fakir ini.
Ya Allah, kami memang tak pantas memasuki surga-Mu, tetapi sungguh kami tak sanggup menjalani hidup di neraka-Mu.

 
Maka rahmatilah kami, ampunilah kami, bimbinglah kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beruntung, orang-orang yang mulia di sisi-Mu.
Amin….

Minggu, 12 Juni 2011

Tentang Kebenaran Yang Hilang ala Fouda (Bag 2)

Peran Para Ulama

Dalam berbagai literatur sejarah Islam kita akan menjumpai segudang prestasi yang telah dicapai pada masa kekhilafahan Islam. Sejak zaman Khulafaur Rasyidin hingga akhir Khilafah Utsmaniyah. Kita akan menjumpai berbagai kecemerlangan dan kesempurnaan sejarah Islam. Terutama pada buku-buku sejarah Islam kontemporer. Saya belum pernah menjumpai ada penulis Muslim (Sunni) yang menuliskan keburukan dalam sejarah Islam.

Jika ada tulisan Muslim yang mengeluhkan keburukan sejarah Khilafah Islam, hampir bisa dipastikan itu berasal dari kaum Syiah atau Islam liberal. Namun tetap saja, sebagai seorang Sunni, saya sempat merasakan kegelisahan membaca sejarah kekhilafahan Islam. Benarkah sejarah Islam berjalan begitu indah, padahal umat Islam adalah bagian dari umat manusia yang tak sempurna? Bukannya saya ingin mencari kejelekan dari sejarah Islam, tetapi melihat kenyataan adanya perselisihan antara Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a dan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a, serta antara Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a dengan Muawiyah r.a membuat saya terpaksa berpikir seperti itu. Tetapi mengapa para ulama hampir tak pernah mengabarkan kelemahan dari sejarah khilafah Islam untuk dijadikan bahan studi?

Fouda dalam bukunya juga mempertanyakan hal yang sama. Bahkan lebih. Fouda seakan-akan menyatakan ada sebuah kebenaran yang hilang dalam sejarah Khilafah Islam. Ada fakta yang sengaja ditutupi oleh para ulama untuk mencapai agenda tertentu. Pendapat ini cukup ekstrim menurut saya. Namun bisa saja ada benarnya. Akan tetapi, kalaupun para ulama sekarang sengaja menutup-nutupi fakta tentang “penyimpangan-penyimpangan” dalam sejarah khilafah Islam tersebut, tentu hal itu bukan tanpa alasan. Kestabilan umat Islam saya kira adalah salah satu alasannya, selain agar tumbuh cita-cita, impian luhur untuk mewujudkan masyarakat Islam dan pemerintahan Islam yang ideal.

Umat Islam mestinya memang tahu kelemahan-kelemahan dalam sejarahnya, tetapi mungkin tidak perlu seluruh umat, cukup orang-orang tertentu saja. Misalnya para pemikir-pemikir Muslim, ilmuwan-ilmuwan Muslim, dan para ulama saja. Ini misal. Mengapa demikian? Karena mereka inilah yang memiliki kapabilitas untuk merekonstruksi, merancang sistem pemerintahan Islam yang ideal untuk masa kini, sekaligus mengeliminir penyimpangan-penyimpangan yang mungkin akan timbul jika nantinya sistem khilafah kembali tegak berdiri.

Kita juga harus ingat bahwa Rasulullah telah menyampaikan bahwa generasi terbaik Islam adalah pada masa Rasulullah dan sahabat, kemudian tabi’in, dan tabiut tabi’in. Rasulullah pernah bersabda tentang kematian Umar bin Khattab r.a. Bahwa Umar adalah gerbang / pintu fitnah. Artinya, ketika Umar tiada, maka akan bermunculan fitnah dalam umat Islam. Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan bahwa cucu-cucunya, Hasan dan Hussein akan mati syahid dan mereka menjadi penghulu pemuda surga. Rasul juga pernah menyebutkan bahwa Ammar bin Yasser r.a akan dibunuh oleh kaum yang bengis.

Semua yang disebutkan Rasulullah benar terjadi. Mustahil jika beliau tidak tahu bahwa semua itu terjadi tidak lama setelah kepergian beliau. Pun demikian Rasulullah tetap menyampaikan bahwa masa –masa tersebut adalah generasi-generasi terbaik dalam Islam. Dengan memperhatikan hadits tersebut, tidak mengherankan jika para ulama tetap menjadikan kehidupan masa-masa tersebut sebagai rujukan kehidupan umat Islam yang lebih baik daripada sekarang.

Masyarakat Islam tumbuh sebagai masyarakat yang sholeh pada saat itu. Saat dimana kekhilafahan Islam berkuasa. Walaupun tetap terjadi penyimpangan dalam politiknya. Dan kita tentu cukup paham bahwa ketika kita mengambil teladan, tentu yang diambil adalah sisi yang baik. Sedangkan sisi yang buruk kita tinggalkan. Bukan dilupakan, tetapi ditinggalkan dan kita jadikan ibrah untuk menata kehidupan supaya lebih baik.

Tetapi masih saja ada hal yang yang menjadi pertanyaan saya, yaitu apa yang dilakukan para ulama masa-masa itu? Kemana mereka? Satu contoh pada kasus peristiwa Karbala. Di saat Hussein dan keluarganya dikepung tentara Yazid bin Muawiyah, kemana para ulama? Bukankah bisa saja, mereka mengerahkan murid-muridnya, pengikutnya untuk berdiri di belakang Hussein, membela cucu Rasulullah? Mengapa hal itu tidak dilakukan?

Apakah para ulama memandang bahwa hal itu sudah masuk ranah politik sehingga mereka tak mau mencampurinya? Apakah mereka telah kalah legitimasi dibandingkan para politisi saat itu? Tidakkah mereka ingat bahwa yang akan dibantai adalah para Ahlul Bait, keluarga Nabi?

Bagi saya itu tetap menjadi sebuah misteri. Hal yang sama terjadi pada masa setelahnya. Ketika terjadi kezaliman penguasa, penyimpangan dalam pelaksanaan sistem politik dan pemerintahan, apa yang menahan para ulama untuk melakukan pengoreksian? Secara terstruktur, terorganisir, dan melibatkan massa tentunya. Karena jika koreksi sendiri-sendiri saya kira beberapa ulama telah melakukannya. Dan tak jarang diantara mereka harus mengahiri hidupnya dalam penjara atau di tiang gantungan.

Fouda memandangnya dengan cara yang keras. Tidak adanya kritik dari ulama yang mampu mengubah kebijakan politik saat itu menjadikan Fouda beranggapan bahwa ulama justru menjadi alat legitimasi para penguasa. Bisa jadi memang ada ulama yang demikian. Istilahnya kalau sekarang ada ulama pro pemerintah, ada ulama pro rakyat. Bisa jadi pula pada saat itu telah terjadi pemisahan antara urusan Negara dan urusan agama, alias Negara sekuler, dimana para ulama tak mau lagi mencampuri urusan dunia. Lebih suka mengejar kenikmatan ibadah seorang diri.

Tuduhan-tuduhan Fouda memang cukup “kejam”. Tetapi kita harus membuka mata dan pikiran kita, bahwa bisa saja sekian persen dari tuduhan itu benar. Bisa saja. Paling tidak, ada sedikit ulama yang berlaku demikian. Saya tak suka melakukannya atau memikirkannya, tetapi ulama tetaplah seorang manusia. Kadang salah, dan tak jarang lupa atau terlena. Sebuah contoh konkrit pada masa kini. Bukankah banyak para ulama masa kini yang tak ragu-ragu masuk dalam kancah politik yang kemudian akhirnya menenggelamkannya dalam arus politik yang kotor? Mereka tahu tetapi tetap saja mengikuti arus itu. Bukankah di masyarakat sekarang banyak pula terjadi praktik bid'ah, tahayul dan kemusyrikan? Lalu dimana para ulama? Bukankah sekarang banyak pula ulama yang beraliran liberal?

Semua pertanyaan ini akhirnya memaksa saya untuk mau atau tidak mau, sedikit atau banyak, juga "mendukung" kritik Fouda kepada para ulama. Benarkah mereka telah melaksanakan tugasnya dengan baik? Jika para ulama tak mampu memberikan contoh yang terbaik, lalu bagaimana dengan masyarakat awam? Masih banyak memang, ulama yang masih menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, tetapi sayangnya mereka tidak mendapat dukungan dari banyak pihak, sehingga upaya yang mereka lakukan seperti angin lalu. Semoga Allah SWT menguatkan umat ini dengan para ulama yang benar-benar takut Allah, pemimpin yang berpegang pada Al Qur'an dan Sunnah, dan masyarakat yang senantiasa merindukan ridha-Nya.

Team Work

Awalnya saya adalah tipe orang yang suka mengerjakan segala sesuatu sendirian. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari, adakalanya saya harus bekerjasama dengan orang lain. Dalam sebuah tim kerja. Untuk menghasilkan sesuatu secara lebih baik, atau untuk tujuan / kepentingan bersama.

Namun ternyata membentuk tim kerja bukanlah sesuatu hal yang mudah. Kendati ada banyak orang yang memiliki kepentingan bersama, ada sesuatu yang harus diperjuangkan bersama, ternyata tidak semua orang memiliki kesadaran yang sama. Ada saja orang-orang yang menganggap perjuangan itu tidak penting. Maunya hanya menikmati hasilnya. Saya jadi teringat cerita tentang Bani Israil. Ketika Nabi Musa AS mengajak mereka untuk melawan suatu kaum yang zalim, Bani Israil menjawab, “…pergilah engkau berdua dengan Tuhanmu untuk berperang…”. Seakan-akan hanya Nabi Musa yang membutuhkan kebebasan dari penindasan. Bahkan lebih lagi, ucapan mereka menyiratkan seakan-akan Allah yang butuh kemenangan atas hamba-Nya!! Ckk..ck…ck…

Tapi memang itulah sifat Bani Israil. Maunya enak sendiri. Kalau tinggal menikmati hasil yang baik, mereka berbondong-bondong menyambutnya. Nah, sayangnya, diantara umat Muslim pun ada yang bersifat demikian. Banyak malah. Sifat seperti inilah diantaranya yang menghambat saya ketika hendak membentuk sebuah tim kerja. Hal yang sama juga dialami oleh teman yang lain yang juga menjadi Ketua Tim. Tim kecil memang telah terbentuk dan mampu bekerja dengan baik. Tapi tim yang lebih besar, melibatkan orang yang lebih banyak, sungguh berat rasanya.

Dalam Islam sendiri team work bukanlah hal yang asing. Betapa banyak Nabi telah memberi contoh pentingnya kerjasama tim. Mulai dari hal yang sederhana seperti membangun rumah, masjid, gotong-royong dalam masyarakat, shalat, sampai berperang. Dalam Islam juga diajarkan agar merapatkan barisan ketika shalat agar tampak seperti bangunan (benteng) yang kokoh. Dengan adanya benteng yang kokoh tak akan ada musuh yang mampu menerjang.

Benteng akan berdiri kokoh manakala satu tiang dengan tiang lain terjalin dengan kuat. Dengan kayu atau batu yang seperti jaring. Mengikat kuat. Itulah kerjasama. Ketika satu anggota tim bekerja dengan giat melakukan tugasnya, ia sesungguhnya membuat jalinan yang kuat dengan rekannya. Jika semua anggota tim bertindak demikian, maka akan tercipta “benteng”, sehingga tujuan dibentuknya tim akan mudah tercapai.

Sebaliknya, jika ada satu saja yang “ngglendor”, maka akan terbentuk lubang pada benteng itu. Sehingga bisa saja ada anak panah yang masuk, tombak, atau apapun yang bisa merobohkan benteng atau mencelakai penghuni benteng. Namun sekali lagi, pintu gerbang dari kerjasama adalah kesadaran. Bukan paksaan. Paksaan hanya membuat sebuah bangunan terlihat kokoh tetapi pada dasarnya rapuh. Maka inilah yang mesti dipecahkan terlebih dahulu. Bagaimana membangun sebuah kesadaran kolektif. Kesadaran yang menguatkan. Agar tercipta sebuah kerjasama yang baik. Agar tercapai sebuah cita-cita bersama.

Selasa, 17 Mei 2011

Gadis Di Sarang Penyamun

Itu yang tiba-tiba terpikir dalam benak saya ketika mendapati saya berhenti sendiri di lampu merah, ketika orang-orang dengan cueknya dan mungkin tanpa merasa bersalah menerjang lampu perempatan jalan yang jelas-jelas menyala merah.

Saya tiba-tiba juga ingat betapa teman-teman saya seringkali menyarankan kepada saya agar ikut tes CPNS tahun ini. Saran yang sama dari saudara-saudara, kenalan-kenalan, pada tahun-tahun sebelumnya. Dan saya senantiasa menolaknya dengan halus. Jika melihat
salary-nya saya pasti tergiur. Belum lagi jaminan hari tuanya. Tapi entahlah, saya kok merasa belum sreg.

Seorang teman, lulusan S1 Akuntansi dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, diterima menjadi seorang CPNS tahun kemarin. Komentar pertamanya ketika masuk kerja adalah, "...aku disini cuma ngentang ga ada kerjaan."Di lain hari dia berkata "...kuliah bertahun-tahun cuma disuruh masukkan tabel gaji. Kalau cuma begini mah, ga perlu S1 Akuntansi". Dan di lain hari lagi, "....sesibuk-sibuknya kerja PNS tetap masih sibuk kerja normalnya di swasta." Komentar yang hampir sama muncul dari saudara saya yang juga PNS, "...sehari-hari cuma baca koran, ngobrol, sambil nunggu waktu pulang." Dan konon, dengan "pekerjaan" yang seperti itu, mereka bergaji awal sekitar 1,7 juta. Wow, fantastis!!

Sebuah pertanyaan dilontarkan teman saya ketika menerima uang "sisa" dari sebuah kegiatan seminar yang diadakan instansinya, "...apa yang harus saya lakukan dengan uang ini? Sedangkan semua orang juga menerimanya, dan hal semacam ini memang sudah jadi kebiasaan?" Saya termenung dibuatnya. Jika teman saya mngembalikan uang itu - karena menurut saya uang itu adalah milik negara yang berasal dari rakyat - maka ia akan menjadi orang yang dikucilkan. Tetapi jika tidak dikembalikan, sungguh rasanya seperti menghianati amanah yang diberikan rakyat kepada pelaksana pemerintahan negeri ini. (dan apakah ini tidak bisa disebut sebagai korupsi uang rakyat?)

Itu adalah dua buah gambaran tentang Gadis di Sarang Penyamun. Bagaimana seseorang mempertahankan sebuah idealismenya, sedangkan ia dikepung oleh situasi, lingkungan, kondisi, yang justru bertentangan dengan amanat idealisme itu. Saya pikir kita semua pernah mengalami hal semacam itu. Itu jika Anda juga mau memperhatikan apa kata nurani Anda. Situasi semacam itu sedikit banyak akan kita jumpai. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Jika Anda termasuk orang-orang yang menghargai diri Anda sendiri, sudah pasti Anda akan mengatakan YA untuk kebanaran, dan TIDAK untuk perbuatan yang bertentangan dengan nurani Anda. Kendati mungkin - dan hampir pasti - Anda akan tersisihkan, terkucil, dimusuhi, dipojokkan, dianggap sok suci, tidak realistis, dan berbagai julukan omong kosong lainnya. Anggap saja angin lalu. Sulit? Pasti. Terutama bagi Anda yang bernyali ciut. Atau Anda berhadapan dengan sebuah sistem bobrok yang sudah menjadi legal. Atau Anda berhadapan dengan orang-orang besar. Dan besar kemungkinan pendirian Anda akan mengancam posisi Anda, masa depan Anda, keluarga Anda, dan seterusnya.

Atau Anda memilih untuk bermain aman. Menjadi seorang Penyamun pula? Berprinsip Dimana Langit Dijunjung Disitu Bumi Dipijak? Hemm...Semua itu memang menjadi pilihan Anda. Tetapi yang pasti, kita diciptakan untuk menjadi seorang idealis. Kita diciptakan untuk menjadi seorang pejuang. Jika tidak, mengapa kita masih dianugerahi hati nurani? Jika tidak, mengapa kita masih dianugerahi akal pikiran?

"Dan sesungguhnya tidaklah Kami ciptakan segala sesuatu dengan sia-sia."

Cahaya Di Langit Malam

Maka tiba-tiba aku melihat cahaya bergemerlapan
Bertaburan di atas langit dunia
Aku bertanya apakah itu pelita surga
Yang minyaknya saja hampir-hampir sudah cukup
Untuk menerangi seluruh semesta
Di barat dan di timur?

Dengan wangi kesturi
Lalu sungai-sungai mengalir di bawah kakiku
Di bawah lantai-lantai kaca bening selaiknya embun
Seperti istana Nabi Sulaiman
Dimana Ratu Saba’ pernah terkecoh dibuatnya

Lalu daun-daun yang luasnya sepertiga bumi
Menopang jiwa-jiwa dalam bola-bola kristal yang melayang
Dari sebuah pohon kehidupan
Yang akarnya menghunjam sampai ke dasar semesta
Dan rimbun daunnya nyaris saja menyentuh surga

Aku bermimpi tentangnya

Sejenak aku terkesima pada gemerlap cahaya itu
Dan membayangkan betapa surga telah membuka pintunya

Kiranya pesawat-pesawat terbang
Berlalu lalang mengangkut penumpang
Lampunya berkedip-kedip membangkitkan khayalku

Seperti halnya basah kakiku
Karena aku berdiri di tengah sungai di antara hamparan sawah
Dan rindang pohon kamboja nun jauh di sana
Diterpa angin malam yang deras
Seakan-akan menamparku dan menyadarkanku

Kiranya surga masih jauh dari jangkauku
Tapi bolehlah aku berkhayal berolehnya…