Maka tiba-tiba aku melihat cahaya bergemerlapan
Bertaburan di atas langit dunia
Aku bertanya apakah itu pelita surga
Yang minyaknya saja hampir-hampir sudah cukup
Untuk menerangi seluruh semesta
Di barat dan di timur?
Dengan wangi kesturi
Lalu sungai-sungai mengalir di bawah kakiku
Di bawah lantai-lantai kaca bening selaiknya embun
Seperti istana Nabi Sulaiman
Dimana Ratu Saba’ pernah terkecoh dibuatnya
Lalu daun-daun yang luasnya sepertiga bumi
Menopang jiwa-jiwa dalam bola-bola kristal yang melayang
Dari sebuah pohon kehidupan
Yang akarnya menghunjam sampai ke dasar semesta
Dan rimbun daunnya nyaris saja menyentuh surga
Aku bermimpi tentangnya
Sejenak aku terkesima pada gemerlap cahaya itu
Dan membayangkan betapa surga telah membuka pintunya
Kiranya pesawat-pesawat terbang
Berlalu lalang mengangkut penumpang
Lampunya berkedip-kedip membangkitkan khayalku
Seperti halnya basah kakiku
Karena aku berdiri di tengah sungai di antara hamparan sawah
Dan rindang pohon kamboja nun jauh di sana
Diterpa angin malam yang deras
Seakan-akan menamparku dan menyadarkanku
Kiranya surga masih jauh dari jangkauku
Tapi bolehlah aku berkhayal berolehnya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar