Selasa, 17 Mei 2011

The Caliphates

Ada keharuan yang menyelusup ketika membaca sejarah para Khulafa’ur Rasyidin. Mereka adalah orang-orang yang dijamin masuk surga oleh Allah. Mereka adalah sahabat-sahabat utama Rasulullah, orang-orang yang mengasihi dan dikasihi oleh Rasulullah. Namun sungguh, jalan yang harus mereka lalui berbeda dari jalan teladan mereka, Muhammad SAW.

Jika Nabi menghadapi perlawanan dari orang-orang kafir, penentangan terhadap ketauhidan Allah, maka mereka menghadapi orang-orang munafik. Mereka menghadapi sesama Muslim, tetapi jalan hidupnya jauh dari sebutan seorang Muslim. Mereka harus berbenturan dengan politik dan kekuasaan. Bukan lagi tentang bagaimana menegakkan La ilaha illallah di muka bumi. Namun justru dari dua hal itulah – politik dan kekuasaan –awal segala perpecahan, fitnah, dan permusuhan diantara sesama muslim itu terjadi.

Umar dibunuh oleh seorang budak yang depresi. Utsman dibunuh oleh umat muslim sendiri. Demikian pula dengan Ali. Sungguh ironi. Ketika seruan La ilaha illallah telah menyebar ke seluruh penjuru bumi, umat manusia telah berbondong-bondong masuk Islam, tetapi justru di jantung kekuasaan Islam sendiri, diantara keberadaan para sahabat senior Nabi, para khalifah yang mendapat petunjuk ini justru dibunuh. Oleh umatnya sendiri! Inna lilahi wa inna ilaihi rajiun.

Membaca lembar demi lembar sejarah kehidupan para Khalifah ini, dimulai dari Khalifah Abu Bakar As Shiddiq r.a, ada sebuah harapan yang membumbung tinggi. Bahwa umat Islam akan memperoleh kejayaan. Yaitu berhasil menegakkan dan menyebarkan kalimat La ilaha illallah di seluruh muka bumi, mengajarkannya kepada seluruh manusia sehingga semua orang akan mendapat petunjuk Allah, serta mampu memimpin dunia, menguasainya dengan penuh keadilan.

Membaca sejarah Khalifah Umar bin Khattab r.a yang begitu zuhud dan mengagumkan, membuat saya semakin optimis akan umat Islam. Saya sering dibuat terharu dengan sikap Khalifah Umar yang begitu bersahaja dan bijaksana. Namun akhir kehidupannya yang menyedihkan membuat jantung saya serasa berhenti sejenak. Timbul pertanyaan, lalu setelah ini apa? Dan terngiang sabda Nabi SAW, Sesungguhnya engkau (Umar) adalah pembeda / batas antara kebaikan dan fitnah. Jika engkau terbunuh, maka pintu fitnah itu akan terbuka selamanya. Kurang lebih demikian.

Kemudian itulah yang terjadi. Khalifah Utsman memulai hari-harinya dengan sangat berat. Gelombang fitnah menerjang kemana-mana. Demi menegakkan kekhalifahan Islam yang meliputi berbagai penjuru negeri, menjaga stabilitas khilafah Islam, beliau menunjuk saudara-saudaranya untuk menduduki berbagai jabatan di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Karena hanya dengan saudara-saudaranya itulah beliau percaya dan merasa aman. Namun ternyata kebijakan itu justru menimbulkan fitnah-fitnah baru. Bukannya mendapat dukungan dari masyarakat luas, beliau justru dituduh berusaha melanggengkan kekuasaan untuk keluarganya sendiri.

Tuduhan ini paling tidak ada dua macam. Pertama, tuduhan atau mungkin lebih tepatnya kritikan dari para sahabat senior Nabi, yang khawatir atas ketidak-demokratisan sikap Utsman. Karena bagaimanapun, banyak pula orang Islam lain –selain keluarga Utsman - yang cukup cakap untuk mengemban sebuah amanah kekuasaan. Kritikan ini lebih pada upaya mengingatkan Utsman agar jangan menggali kuburnya sendiri. Kedua, tuduhan dari orang yang menghendaki kekuasaan. Mereka berharap dapat memperolah jabatan tertentu dari apa yang telah mereka perbuat “untuk Islam”. Ketika jabatan-jabatan ini kemudian kebanyakan hanya dialamatkan kepada keluarga Utsman, merekapun menjadi berang.

Akhir drama dari semua fitnah ini adalah pengepungan rumah Khalifah Utsman oleh para pemberontak yang kemudian berakhir pada pembunuhan Khalifah yang terkenal sabar dan penyayang ini. Beliau rela menjadi martir atas semua fitnah yang terjadi di kalangan umat Muslim waktu itu. Beliau mencegah para sahabat Nabi lainnya untuk membantu dan melindunginya, karena kasih sayangnya pada mereka semua.

Lembaran terakhir dari sejarah para Khulafa’ur Rasyidin adalah perjalanan berat yang harus ditempuh oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. Beliau harus menghadapi situasi sulit berkaitan dengan pembunuhan Khalifah Utsman. Beliau kemudian juga dirongrong oleh golongan Khawarij, para pemberontak yang sebelumnya adalah para pendukungnya, yang kemudian berbalik arah menyerangnya. Dan yang paling utama, beliau juga harus berhadapan dengan sahabat Nabi lainnya, sekaligus anggota keluarga Utsman, yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan r.a. Konflik terakhir ini lebih bersifat perebutan kekuasaan. Yang kemudian juga berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Ali.

Sungguh, semua drama itu membuat saya merenung tajam. Bahkan terkadang seperti seseorang yang hendak menggapai bintang di tengah tanah lapang. Saya berpikir, jika perselisihan yang terjadi di masa-masa awal Islam saja sudah seperti itu, padahal diantara mereka banyak orang-orang saleh, para sahabat nabi yang mendapat didikan langsung dari Sang Rasulullah mulia, lalu bagaimana dengan kita, yang hidupnya jelas-jelas jauh dari masa itu? Yang kesalehannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan para sahabat Nabi? Yang tantangannya jauh lebih berat daripada masa-masa itu? Apa yang akan terjadi pada kita?

Saya tidak ingin berputus asa. Tapi jantung saya sudah terasa robek merasakan kepiluan yang terjadi pada masa-masa awal Islam tersebut. Sedih. Dan saya merasa begitu lelah….

Kejujuran Yang Memberuntungkan

Saya ingat sebuah film yang sangat menarik bagi saya, yaitu Forrest Gump. Anda pernah menontonnya? Tokoh dalam film ini adalah seorang pemuda bodoh / idiot yang bernama Forrest Gump. Meskipun bodoh / idiot, ia menyadari bahwa dirinya bodoh. Salah satu yang paling berkesan bagi saya dari tokoh ini adalah kepatuhannya pada orang tua. Apapun perkataan ibunya (ia tak punya bapak lagi), selalu ia turuti. Karena ia percaya ibunya akan mengatakan hal yang benar kepadanya.

Hal lain yang juga menarik perhatian saya dari tokoh ini adalah kejujurannya. Ia tak perduli apa perkataan orang tentang dirinya, ia tetap berlaku jujur. Kesadarannya bahwa ia bodoh, adalah bentuk paling awal dari kejujurannya. Kepada diri sendiri. Dan menariknya, kejujurannya itu seringkali memberikan keberuntungan kepadanya. Hingga ia berhasil mencapai puncak karirnya, yang ia sendiri, atau siapapun tak akan mengira. Bahwa seorang yang bodoh itu bisa mencapai sebuah kesuksesan yang seringkali diimpikan oleh orang-orang cerdas.

Kisah lain yang juga sangat luar biasa adalah kehidupan Muhammad bin Abdullah. Tak perlu diragukan lagi ia adalah salah satu orang terjujur yang pernah terlahir ke dunia. Jika Forrest Gump adalah tokoh rekaan, maka Muhammad bin Abdullah adalah tokoh nyata yang pernah hidup diantara manusia lainnya. Oleh kaumnya Muhammad diberi gelar Al Amin, yang berarti Yang Terpercaya. Sejak kecil ia selalu bersikap jujur dan santun kepada siapa saja. Ketika terjadi perselisihan diantara kaumnya, ia pulalah yang ditunjuk untuk menyelesaikan permasalahan itu. Padahal usianya saat itu masih muda.

Muhammad terlahir dari keluarga yang terhormat, memiliki harta yang tidak sedikit. Namun gelar yang disandangkan kepadanya bukanlah karena keluarganya, bukan karena hartanya, melainkan karena sifatnya yang bisa dipercaya/jujur. Bahkan seseorang menuturkan bahwa “...jika engkau menitipkan barang kepadanya, ia tak akan menyentuhnya sedikitpun. Jika engkau menitipkan istrimu agar ia menjaganya, sedikitpun ia tak akan melirik istrimu.” Yang luar biasa perkataan ini justru muncul dari orang yang memusuhi Muhammad! Mungkinkah Anda menemui hal semacam itu pada masa sekarang ini?

Ketika beranjak dewasa Muhammad ikut sebuah kafilah dagang menuju Syam yang dipimpin oleh seorang janda kaya bernama Khadijah. Sebagai pedagang Muhammad tetaplah dikenal sebagai orang yang jujur. Ia akan mengatakan kepada calon pembelinya mengenai barang yang dijajakannya secara jujur. Bila barangnya baik, ia akan mengatakan baik. Bila barangnya dalam kondisi buruk, ia pun tetap mengatakannya. Tak heran banyak pembeli yang justru terpikat dengan cara dagangnya itu. Sehingga pada saat kembali ke tempat asalnya, Mekah, Muhammad memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Akhir cerita, majikannya pun juga terpikat dengan budi pekerti Muhammad, hingga ia pun meminta agar Muhammad bersedia menikah dengannya.

Lihatlah, cerita-cerita luar biasa ini bermula dari satu kata. Kejujuran. Dengan kejujuran inilah mereka-mereka memperoleh keberuntungan. Oleh karena itulah judul tulisan saya ini adalah “Kejujuran Yang Memberuntungkan”, bukan “Kejujuran Yang Menguntungkan”. Apa bedanya? Menguntungkan berarti memperoleh keuntungan. Keuntungan adalah sesuatu yang bisa diupayakan untuk diraih. Keuntungan bersifat disengaja. Ada target. Dengan perhitungan tertentu, keuntungan yang dikehendaki / ditargetkan bisa terealisasi. Meski kadang meleset, bisa lebih baik atau lebih buruk, namun tetap saja keuntungan itu ada perhitungannya.

Memberuntungkan berarti memperoleh keberuntungan. Apa yang Anda pikir tentang keberuntungan? Jika saya berkata, orang itu beruntung, apa yang terlintas di pikiran Anda? Kondisi beruntung sering dimaknai dengan memperoleh keuntungan yang tak disengaja. Seseorang tak berniat/berpikir memperoleh keuntungan, tetapi ternyata ia memperoleh keuntungan. Ini disebut sebagai keberuntungan. Begitu juga dalam kisah-kisah di atas. Mereka, Forrest Gump ataupun Muhammad, tidak berpikir bahwa mereka akan memperoleh keuntungan dari sikapnya, jujur. Mereka melakukannya hanya karena mereka tahu bahwa sikap itu adalah sikap terpuji, sesuai dengan nurani, sangat layak untuk diapresiasi dan diamalkan.

Mereka tidak hendak “memperjualbelikan kejujurannya” dengan harta benda, jabatan, prestise, ataupun kesenangan-kesenangan dunia lainnya. Tidak. Mereka tidak berniat seperti itu. Mereka berpikir, merasa, bahwa jujur itu indah. Fitrah manusia adalah menyukai keindahan. Mereka mendengarkan kefitrahan mereka. Mereka mengikutinya. Maka keberuntungan pun menyertai mereka. Bagaimana dengan Anda? Anda percaya? Silakan lakukan, dan buktikan!

Jumat, 18 Maret 2011

Karena Hidup Bukan Pilihan

Kebanyakan orang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, Tetapi saya justru ingin mengatakan sebaliknya, bahwa hidup bukanlah sebuah pilihan. Mengapa demikian? Sebenarnya ada dua hal berbeda dalam permasalahan ini.

Benar memang, bahwa hidup adalah pilihan. Tetapi itu berlaku dalam penyikapan suatu hal. Sedangkan dalam menghadapi kenyataan hidup, maka hidup yang kita jalani bukanlah sebuah pilihan. Coba renungkan, pernahkah Anda bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga terpandang, bangsawan misalnya? Bisakah Anda memilih terlahir sebagai laki-laki? Bisakah Anda membuat pengecualian bahwa ketika tangan Anda dibakar, maka tangan Anda tidak terbakar meskipun orang lain bisa terbakar? Bisakah Anda memilih untuk bernafas lima menit sekali?

Semua pertanyaan-pertanyaan diatas, dan banyak pertanyaan lainnya, menunjukkan bahwa kita harus menerima kenyataan. Bahwa Anda terlahir sebagai perempuan misalnya, maka Anda tak bisa menolaknya. Bahwa Anda tidak bisa tidak bernafas barang sekejab saja, Anda tak bisa mengingkarinya. Ini semua kenytaan. Yang perlu kita lakukan adalah menerimanya, karena segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik bagi diri kita.

Lalu apa selanjutnya? Anda perlu menentukan sikap atas kejadian-kejadian yang menimpa Anda, realitas/takdir yang terpampang di hadapan Anda. Dan disinilah lapangan pilihan hidup itu berlaku. Anda bebas memilih sikap apa yang Anda ingin ambil menghadapi realitas. Keputusan ada di tangan Anda, dan tentu saja ada sebuah konsekuensi logis yang melekat dari setiap keputusan tersebut. Bagaimana?

Sabtu, 05 Februari 2011

Pujaan Hati

Aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Takut-takut kucuri pandangan padanya. Tapi dia diam saja. Mungkin dia tak melihatku.

Tiap hari, untuk sesaat, aku berhenti di trotoar itu. Memandangnya walau hanya sekejab. Aku tak berani terlalu lama. Takut orang mencemoohku. Mereka mungkin mengatakan aku tak pantas untuknya. Ya. Aku sadar itu. Siapalah aku ini?

Aku hanya bekerja serabutan. Upahku tak menentu. Tapi….aku begitu ingin memilikinya. Aku ingin mendekatinya. Tapi apa mungkin? Apa dia sudi menemuiku?
Tapi gejolak hatiku begitu menginginkannya…

Dia begitu mempesonaku. Dia memancarkan aura yang tak pernah kujumpai pada yang lain. Dan aku hanya bisa menatapnya. Dia selalu di sana. Di dalam toko itu. Seperti sedang menanti sesuatu. Apakah itu aku? Apakah dia menantiku?

Ah, mana mungkin. Mengenalku saja tidak. Aku yang berpakaian lusuh ini, mana mungkin menarik perhatiannya. Meski aku begitu berharap ada sebuah keajaiban, dimana aku bisa mendekatinya, memilikinya. Andai saja.

Beberapa hari ini aku telah mengumpulkan uang dari hasil keringatku. Tidak banyak memang. Tapi lumayan. Aku berharap ini bisa buat bekal bagiku untuk mendekatinya. Syukur-syukur cukup untuk menarik perhatiannya Sehingga aku bisa memilikinya.

Meski dengan hati bimbang, deg-degan, hari ini aku bertekad untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku tak mampu lagi memendam keinginanku. Aku masuk ke dalam toko itu. Menemui pemilik toko yang memandangku dengan enggan. Lalu aku bertanya kepadanya. “Pak, Browniesnya sepotong harganya berapa?”

Bias Kehidupan

Saya mendengarkan saja cerita sahabat saya, yang menceritakan perkataan teman saya yang lain, yang berkomentar tentang pernyataan saya. Saya terhenyak. Berita itu membuat saya harus menarik nafas panjang. Berat sekali. Saya enggan untuk mempercayai perkataan sahabat saya itu. Tapi saya cukup mengetahui kualitas dirinya, sehingga rasanya tak mungkin bila ia hendak bermain-main dengan saya. Terlebih lagi setelah beberapa waktu saya mendengar kabar serupa dari teman-teman saya yang lain.

Hal yang ingin saya sampaikan disini adalah tentang bias. Waktu itu saya mengatakan tentang hal A. Tetapi teman saya yang membiaskan perkataan saya tersebut menyampaikan ke teman yang lain seolah-olah saya mengatakan B. Saya tahu bahwa ia tidak hendak memfitnah saya, karena kami dulunya adalah teman dekat. Tetapi ia bias. Ia menuruti emosinya terlebih dulu, sehingga tidak bisa mencerna perkataan saya dengan benar. Beberapa sahabat saya yang lain ternyata juga mengalami hal yang sama dengan saya, perkataan atau sikapnya ditanggapi dengan bias. Oleh teman saya yang bias itu, atau oleh yang lainnya.

Beberapa lama akhirnya saya menyadari, betapa dalam kehidupan ini memang seringkali terjadi bias. Sesuatu yang lurus menjadi bengkok, sesuatu yang benar akhirnya menjadi salah, karena terjadi bias.

Saya ingat, dalam film The Sixth Sense, ada sebuah perkataan salah seorang tokohnya yang berbunyi, “Kau hanya melihat apa yang ingin kaulihat, bukan yang seharusnya terlihat”. Inilah akar dari bias. Kita seringkali melihat kenyataan pada apa yang ingin kita lihat dari kenyataan tersebut. Kita melihat persepsi kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Kita melihat sebuah peristiwa buruk yang menimpa kita sebagai sebuah keburukan dalam hidup kita, padahal jika kita mau melihatnya lebih seksama, sebenarnya peristiwa itu justru akan membawa kebaikan pada diri kita. Bukankah hal semacam ini sering terjadi pada kita?

Serupa dengan apa yang telah disampaikan Al Qur’an, ....ketika terjadi keburukan pada mereka, mereka mengatakan “Tuhanku mengabaikanku”. Dan bila terjadi hal yang baik pada mereka, mereka mengatakan “Tuhanku memuliakanku”.

Bias semacam inilah yang seringkali akhirnya mencelakakan kita. Kita seperti mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak patut kita kejar. Kalau dalam film Home Alone (yang keberapa saya lupa), si kecil Kevin mengejar seorang laki bermantel seperti ayahnya di bandara. Ia mengira lelaki itu ayahnya. Dan ternyata bukan. Ketika ia menyadari kesalahannya, semua sudah terlambat. Ia tak bisa lagi menemukan ayahnya. Karena mereka menuju arah yang berbeda.

Maka alangkah lebih bijaknya ketika kita menerima sebuah informasi, mendengar atau melihat perkataan, sikap, peristiwa, atau apapun itu, kita melihat dari berbagai sudut secara komprehensif. Mengkonfirmasi ulang, mengklarifikasi kebenaran informasi itu, agar kita tidak salah arah. Agar kita tidak menyakiti orang lain. Agar kita tidak menjadi orang yang sesat dan menyesatkan.

Sabtu, 29 Januari 2011

Waktu

Entahlah. Rasanya baru kemarin saya menikmati akhir pekan. Dan hari ini sudah akhir pekan lagi. Waktu rasanya benar-benar begitu cepat berlalu. Detik demi detik. Menit demi menit. Jam berganti jam. Hari, minggu, bulan tahun. Semuanya begitu cepat.

Mungkin karena kesibukan kerja lah yang membuat saya merasa seperti itu. Pagi, saya berangkat pukul 6. Pulang sampai rumah seringkali sekitar pukul 4 sore, meskipun seharusnya saya sudah bisa pulang pukul 2, dan sampai rumah pukul 3. Perjalanan dari rumah ke kantor memakan waktu 1 jam. Tapi bila pekerjaan memang masih menumpuk, rasanya begitu sayang jika tidak segera saya selesaikan. Jangan dibayangkan kalau saya pulang telat berarti saya akan dapat uang lembur. Di tempat saya bekerja tidak demikian. Terutama karena saya termasuk orang manajemen. Artinya, selama sebuah pekerjaan itu masih menjadi tanggungjawab saya, maka jam berapapun saya pulang tidak akan dapat uang lembur.

Saya tidak mengeluh karena itu. Mungkin karena sudah terbiasa. Mungkin karena sejak awal saya sudah tahu hal itu. Mungkin karena niat saya sejak awal bekerja di tempat kerja saya itu adalah untuk ikut membantu, mengawal agar instansi saya tersebut bisa tumbuh menjadi besar. Saya berharap ini adalah hal yang baik. Saya berharap perasaan itu, pikiran semacam itu terus ada dalam diri saya.

Tapi yang terpenting dari hal ini adalah ketika tiba-tiba datang pertanyaan dalam diri saya ; sudahkah saya mengisi waktu saya dengan kegiatan-kegiatan yang berguna?

Waktu begitu cepat berlalu. Umur menjadi semakin pendek. Semakin dekat pula saat kita untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Akankah kita kelak bertemu dengan-Nya sambil tersenyum? Ataukah kita datang dengan rasa takut yang luar biasa, yang tak pernah kita rasakan sekalipun di dunia ini?

Kita tak pernah tahu. Kita tak pernah bisa menerka jalan hidup kita. Kita tak bisa mengira-ngira seperti apa akhir hidup kita. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah berusaha semaksimal mungkin mengisi waktu kita dengan kegiatan yang baik, bermanfaat bagi kita ataupun orang lain. Lalu biarkan Dia yang akan menuntun kita. Semoga kita selalu mendapat petunjuk-Nya.

Drama

Membaca Novel Angel & Demons karya Dan Brown membuat saya menyadari sesuatu. Drama. Ya. Betapa banyak drama dalam kehidupan kita. Dengan akhir yang bahagia, klise, atau pun penuh tanda tanya.

Angel & Demons menceritakan salah satu drama yang paling memilukan menurut saya. Mengapa? Karena drama itu tercipta dari sebuah misi. Yang konon misi itu adalah ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Demi mendekatkan diri kepada Tuhan, demi sebuah cita-cita agar umat kembali kepada Tuhannya, seorang pastor rela menciptakan sebuah bencana. Yang di dalamnya terdiri dari berbagai peristiwa, pilu, mengorbankan banyak nyawa.

Ironi rasanya. Tujuan mulia harus dilalui dengan cara yang sadis. Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa drama yang terjadi dalam Angel & Demons adalah salah satu drama yang paling memilukan.

Namun demikian, drama ini membuka mata saya, bahwa betapa dekat cerita itu dengan realita kehidupan kita, atau realitas berbagai peristiwa di dunia sejak dulu. Salah satu drama mengerikan yang belum terlalu lama terjadi adalah tragedi 9/11. Berbagai analisis dan pengamatan menyebutkan bahwa 9/11 adalah sebuah skenario yang dirancang Yahudi untuk memojokkan Islam. Seolah-olah Islam lah yang melakukan terorisme itu. Seolah-olah Islam adalah agama yang merusak. Ajaran yang berisi permusuhan, kebencian dan sebagainya.

Dan ternyata skenario ini cukup berhasil. Di seluruh penjuru dunia, orang Islam dimusuhi (terutama Islam yang minoritas). Mereka dibenci, diserang, diperlakukan tidak adil, dilecehkan, seolah-olah menjadi Muslim adalah sama dengan menjadi seorang penjahat, seorang yang hina.

Namun semua tindakan permusuhan terhadap Islam tersebut tidak dibalas oleh masyarakat Muslim. Memang ada sejumlah tindakan radikal yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Muslim tertentu untuk membalas perlakuan tidak adil yang mereka terima. Namun hal ini segera dimentahkan oleh Muslim lainnya. Bahwa tindakan perusakan, radikalisme, yang dilakukan sejumlah kelompok Islam garis keras itu bukanlah cerminan sikap seorang Muslim. Bahwa Muslim sejati tidak akan melakukan kekerasan. Apalagi terhadap orang yang tak berdosa. Bahkan kepada masyarakat yang jelas-jelas berbuat zalim. Lihat saja contoh Nabi SAW ketika beliau diludahi, dimusuhi, dilempari batu oleh masyarakatnya. Beliau justru berdoa, “Ya Allah, maafkanlah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu.”

Yang kemudian terjadi adalah masyarakat dunia menjadi bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa sih sesungguhnya Islam itu? Lalu berbondong-bondonglah orang mempelajari Islam. Lalu berduyun-duyunlah orang masuk Islam. Muslim-muslim baru ini ternyata akhirnya menjadi orang-orang yang paling perduli, paling membela Islam ketika Islam diserang. Subhanallah. Hal ini yang (mungkin) tidak diprediksi dalam skenario Yahudi untuk menghancurkan Islam.

Jauh sebelumnya, pendirian Negara Israel juga merupakan sebuah drama. Konon, bertahun-tahun skenario itu dibangun. Mulai pemilihan lokasi, strategi, waktu, sarana dan seterusnya. Lalu mulailah orang-orang Israel membeli tanah di tepi-tepi negeri Palestina dan sekitarnya. Lalu mulailah mereka mengisolasi warga Palestina di dalamnya. Lalu mulailah senjata-senjata didatangkan. Lalu mulailah invasi itu. Lalu mulailah segala kekacauan di Palestina yang tak juga berhenti sampai detik ini.

Holocoust juga sebuah drama. Pembunuhan JF. Kennedy juga drama. Pengucilan Iran dan Korea atas proyek nuklirnya juga drama. Westernisasi di berbagai Negara di dunia juga drama. Berlian darah di Afrika juga drama. Rendahnya moralitas masyarakat Barat juga drama. Munculnya berbagai sekte sesat di seluruh dunia juga drama. Reformasi di Indonesia juga drama. Dan masih banyak lagi drama-drama di dunia.

Banyak diantara drama-drama itu ditulis dan disutradarai oleh Yahudi. Ini yang saya acungi jempol. Dalam arti, betapa mereka memang orang-orang jenius di dunia ini. Sayangnya kejeniusan mereka ini tak lebih digunakan untuk membuat kerusakan dan kekacauan di dunia. Tapi kita tak perlu khawatir. karena bagaimanapun sempurnanya sebuah skenario yang disusun oleh manusia, selama itu digunakan untuk kejahatan / keburukan, suatu saat Allah pasti akan menghancurkannya. Dalam Al Qur'an juga disebutkan bahwa mereka (Yahudi) akan mengalami kemenangan dan berakhir dengan kekalahan mereka. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, jika selanjutnya adalah giliran kita (Muslim) untuk mengemban amanah memerintah bumi ini, apakah kita telah siap untuk memerintah dunia dengan keadilan, sebagaimana yang telah dijalankan oleh Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin?