Sabtu, 22 Januari 2011

Kabut

Orang-orang berkerumun dan berteriak-teriak. Ada apa? Maling?
Sepertinya bukan.

Ada yang berlarian kesana kemari. Mengucapkan sesuatu. Minta tolong. Kebakaran?
Tampaknya juga bukan itu.

Lalu wanita-wanita menjerit. Anak-anak menangis. Ada apa sebenarnya? Bencana alam?
Aku tak yakin.

Perlahan. Aku lihat wajah orang-orang. Memandangku heran? Kok aneh. Bukankah seharusnya aku yang heran. Apa yang mereka lakukan?

Tapi sepertinya tatapan itu bukan heran. Tanda tanya? Apa ada bedanya tanda tanya dengan heran? Tanda tanya digunakan untuk sebuah klarifikasi, memperjelas sesuatu hal. Sedangkan heran adalah ekspresi dari sebuah kekaguman, keterkejutan atas sesuatu yang tak biasa atau tak lazim menurut pemikiran orang-orang atau seseorang.

Emm…rasanya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas kosakata itu, kendati aku yakin aku bisa menjelaskannya lebih banyak.

Tapi yang aku yakin, orang-orang berlarian, berkerumun, memandang, di satu titik. Aku. Ada apa denganku? Apa aku orang aneh? Rasanya tidak. Yah, teman-temanku mengatakan aku agak terlalu bersolek beberapa hari ini. Tapi itu bukan hal yang jelek kan. Aku melihat di tv banyak lelaki yang bersolek. Dan itu tak menjadi masalah. Kenapa buatku jadi masalah? Toh, aku hanya menggunakan minyak rambut agar rambutku yang mulai memutih terlihat agak hitam dan klimis. Itupun tiga hari sekali…

Aku masih tak yakin orang-orang ini mendekatiku karena gaya bersolekku. Mungkin karena bawaanku yang terlampau banyak, dan mereka tak suka melihatku terlihat “sibuk”? Tunggu dulu, bawaanku ini berharga. Semuanya. Jangan-jangan mereka mau merampokku. Waduh! Coba kuingat-ingat. Beberapa hari yang lalu aku melihat film tentang bela diri di rumah temanku. Aku ingat beberapa gerakannya. Kukira aku bisa menggunakannya jika orang-orang ini mencoba mengambil bawaanku. Tapi mereka terlalu banyak. Apa aku bisa menghadapinya sendirian?

Tiba-tiba aku kok tidak tenang dengan semua pandangan mata orang-orang itu. Sepertinya mereka juga mengucapkan sesuatu. Tapi apa? Ah, apakah aku setuli itu. Tak bisa mendengar sedikitpun kata-kata mereka. Padahal tadinya bisa lo!

Pandangan mataku juga agak kabur. Sebentar jelas, sebentar hilang. Aku tadi memang sempat minum aspirin. Tapi itu dua jam yang lalu. Masak masih bereaksi sih?

Kok sepi ya. Aku merasa dingin. Jam berapa sekarang? Aku harus menjemput anakku. Aku mau melihat jam tanganku. Hei, aku mau melihat jam tanganku! Kenapa tanganku tak bisa digerakan? Kulirik sekilas ke tanganku. Tunggu dulu. Kenapa aku terbaring? Darah? Di tanganku? Bajuku? Kakiku? Dimana-mana? Tubuhku penuh darah? Ada apa? Motorku tergeletak begitu saja. Sekilas kulihat cukup berantakan.

Astaga!! Aku baru sadar. Aku tadi melihat truk. Di depanku. Aku sedang melintas. Aku tak bisa menghindar.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku yakin masih di sakuku. Ya. Coklat itu. Untuk anakku. Hanya sebulan sekali aku membelikannya. Aku tak punya uang. Tapi sebulan sekali sudah cukup untuk membuat anakku terlonjak-lonjak kegirangan. Aku menyeberang setelah membelikan coklat untuk anakku.

Ah, aku juga baru sadar. Ternyata orang-orang berteriak meminta bantuan medis untuk menolongku. Ternyata wanita-wanita menjerit, anak-anak menangis karena ngeri melihat keadaanku. Ternyata…

Aku tiba-tiba merasa pusing. Dingin sekali rasanya. Kabut mulai turun di pelupuk mataku. Maaf, nak. Sepertinya bapak tak bisa membawakan coklat untukmu kali ini….

Sabtu, 15 Januari 2011

Tentang Apa?

Pertanyaan itu seringkali muncul ketika saya hendak menulis sesuatu. Baik berupa essay, cerpen, puisi atau lainnya. Bingung. Mungkin hampir semua penulis pernah mengalami hal itu. Mungkin. Tapi seiring bertambahnya jam terbang, pertanyaan itu akan semakin jarang terpikirkan. Yang ada hanyalah “aliran pikiran”.

Ya. Apa yang ada di pikiran kita bisa kita tuang, kita alirkan begitu saja. Saya begitu terpesona dengan kata-kata ini ketika saya membaca tulisan Pak Hernowo – salah seorang pakar Quantum Writing Indonesia – yang membahas mengenai “Flow”. Mengalir, atau aliran pikiran.

Menulis dengan jalan mengalirkan, menumpahkan apa saja yang ada di dalam pikiran kita rasanya memang akan sangat nikmat. Menyegarkan! Kita tidak lagi terbebani dengan kata-kata yang harus kita rangkai. Kita tidak lagi harus dipusingkan mengenai tema. Kita tidak perlu dipusingkan mengenai bagaimana tanggapan orang lain atas tulisan kita. Terserah orang lain mau menilai seperti apa. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan tugas kita sebagai penulis. Menulis!

Tapi bagaimana seseorang bisa menuliskan apa yang ada di pikirannya? Apa memang semudah itu?

Awalnya mungkin memang tidak mudah. Apalagi bagi yang tidak pernah menulis. Mungkin akan terasa kaku, hambar, kosong. Atau tulisannya akan terlihat menyebalkan, membosankan, omong kosong, bikin ngantuk, dan seterusnya. Tapi itu sebuah awal yang bagus. Teruskan saja. Semakin sering kita menulis, semakin ahli pula kita mengungkapkan pikiran kita.

Setiap kita pasti juga pernah bertanya jawab dengan diri kita sendiri. Tentang tindakan yang harus kita ambil. Tentang benar salah. Tentang rasa marah atau sedih. Tentang kegalauan, dan seterusnya. Dialog dalam pikiran kita itu sebenarnya modal dasar bagi kita untuk menulis. Ya. Tulis saja semua tanya jawab itu. Tak perlu risau hasilnya tidak bagus. Masalah koreksi itu belakangan. Yang penting tulis saja dulu. Dan dari pengalaman saya, ternyata menuliskan apa-apa yang menjadi pertanyaan dalam diri kita justru membantu kita untuk menjawab pertanyaan itu sendiri.

Sebagian penulis yang sudah berpengalaman juga menyarankan untuk menulis segala sesuatu yang kita jumpai di sekitar kita. Mungkin kita menemukan hal menarik ketika di jalan, di rumah atau dimanapun. Tentang orang-orang yang kita jumpai. Tentang kendaraan. Tentang teknologi yang membutakan kita. Tentang waktu yang merenggut kita. Tentang cinta yang terabaikan. Tentang makanan kesukaan. Tentang peliharaan yang menyusahkan, dan apa saja. Semua bisa jadi bahan tulisan.

Yang pasti, usahakan ketika menulis, jadilah diri sendiri. Tak perlu lah kita menggunakan kata-kata yang muluk-muluk, yang puitis (kecuali kalau memang sastra ya), yang aneh-aneh, jika itu semua tidak menggambarkan diri kita, pikiran kita. Rasanya akan menjadi tidak jujur. Kejujuran dalam menulis itu penting, karena itulah yang menjadikan tulisan kita menjadi bernilai. Baik bagi diri kita sendiri maupun bagi siapapun yang membaca tulisan kita. Bagaimana, masih juga bertanya “tentang apa?”

(Bahasan di atas diinspirasi dari tulisan Pak Hernowo yang berjudul “Flow” dalam rubrik Plong di www.mizan.com, tanggalnya saya lupa)

Kamis, 13 Januari 2011

Pengemis dan Anaknya

Entahlah. Saya tiba-tiba merasa tidak terlalu percaya pada mereka. Seorang pengemis. Wanita paruh baya. Dan “anak”nya yang masih kecil dalam gendongannya. Atau dalam genggaman tangannya. Saya memberi tanda petik pada kata “anak” karena saya tidak terlalu percaya juga kalau itu benar-benar anaknya.

Berita-berita yang saya dengar, lihat, baca, membuat saya menjadi ragu dengan “kapasitas” mereka sebagai pengemis. Benarkah mereka memang pengemis? Benarkah mereka meminta-minta karena ketidakberdayaan mereka, kefakiran mereka, kemiskinan mereka? Atau itu hanya sebuah kamuflase? Sebuah perwujudan dari rasa malas mereka? Sebuah bentuk dari kejahiliyahan model baru?

Saya tidak nyaman dengan semua perasaan ini. Seakan-akan saya menuduh orang-orang yang lemah tersebut melakukan penipuan atau kejahatan. Tapi beberapa berita, liputan, reportase, memang menyebutkan demikian. Mengemis tak lagi melulu merupakan sebuah keterpaksaan Tak lagi wujud dari ketidakberdayaan. Melainkan sebuah profesi, pekerjaan yang “berprospek cerah”.

Konon, ada sebuah kampung di salah satu pulau di Indonesia yang semua warganya berprofesi sebagai pengemis. “Profesi” menunjukkan bahwa mereka melakukannya secara profesional (wow!!). Jangan dibayangkan bahwa rumah-rumah mereka berupa gubuk-gubuk reyot dari bambu, triplek, atau tambalan-tambalan kardus. Tidak. Rumah-rumah mereka bisa dibilang bagus. Dengan dinding semen, lantai keramik, cat yang menarik, dan halaman yang cukup untuk menaruh mobil dan sepeda motor.

Mereka tidak tampak sebagai orang yang tidak berpunya. Mereka tidak nampak seperti orang yang lemah tak berdaya. Mereka adalah orang-orang yang sehat jasmani dan rohaninya (?).

Fakta lain yang memperkuat ketidak-percayaan saya kepada mereka adalah ketika lebaran hampir tiba, dapat kita lihat di berbagai sudut kota akan tampak pengemis yang berjalan berderet-deret seperti sedang ada even Jalan Santai Berhadiah. Dan ketika jauh sebelum lebaran atau pasca lebaran mereka menghilang begitu saja. Benarkah kemiskinan datang ketika akan datang lebaran, dan kemudian semua pengemis tersebut menjadi berkecukupan ketika lebaran tlah usai? Sebenarnya fenomena apa ini, dan apa penyebabnya?

Berbagai alasan mungkin dikemukakan, tapi bagi saya ini menunjukkan bahwa orang-orang itu telah kehilangan harga dirinya. Siapapun orang yang mau berpikir jernih pasti tak rela dirinya menjadi orang yang meminta-minta dari satu orang ke yang lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya. Dengan baju kumal dan compang-camping. Orang normal pasti akan malu. Orang akan melakukannya hanya jika sangat terpaksa. Karena kelemahan diri misalnya. Atau kemiskinan yang amat sangat mendera, kendati segala daya upaya telah dikerahkan.

Pengemis-pengemis gadungan itu menderita Sindrom Kemalasan Akut. Coba pikirkan. Mereka rata-rata masih muda, berbadan sehat, diajak bicara masih nyambung, tapi mereka rela berdiri di perempatan-perempatan jalan meminta-minta belas kasihan orang yang berlalu-lalang. Mereka jelas-jelas masih bisa bekerja! Dan ketika mereka pulang dengan membawa “hasil jerih payahnya”, mereka melepas “pakaian kerjanya” dan berdandan necis, kemudian melenggang menuju tempat-tempat hiburan.

Sungguh, rasanya menyakitkan. Dan ini adalah fenomena yang mengerikan. Lebih mengerikan lagi karena mereka mengajak anak-anak mereka, atau anak-anak sewaan, untuk ikut menekuni “profesi” itu. Mereka mengajari sejak kecil generasi-generasi masa depan itu dengan sebuah “profesi yang menjanjikan”! Jika generasi-generasi harapan bangsa ini sejak kecil telah dilatih menjadi orang-orang bermental pengemis, mau dibawa kemana negeri kita ini? Relakah kita kelak, dipimpin oleh “para pengemis”?

Rindu Rasul

Rindu kami padamu ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau disini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja
(Taufik Ismail)

Ya. Rasa rindu. Itulah yang selalu menyeruak dalam hati saya ketika membaca sirah Nabi Muhammad SAW. Kapanpun saya membacanya. Dalam keadaan seperti apapun, rasa rindu itu selalu hadir.

Ketika hati ini sedang “merasa” dekat dengan Allah, maka tatkala membaca sirah Kekasih-Nya, rasa cinta dan rindu itu begitu kuat mencengkeram hati. Tatkala diri sedang “berpaling” dari Allah, maka ketika membaca sirah Sang Nabi, ada rasa rindu yang terus menyelusup dalam hati yang beku, merobohkan dinding-dinding keangkuhan, meluluhkan angkara murka, dan seketika berurai air mata.

Betapa. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mulia. Beliau adalah manusia biasa. Tapi juga seorang yang terpilih. Beliau menjadi Kekasih Allah. Namanya telah ditinggikan (Dan telah Kami tinggikan sebutanmu – QS. Asy Syarh : 4). Yaitu ketika menyebut Allah, kita mengikutsertakan nama beliau SAW, seperti dalam Syahadat.

Peri kehidupan beliau begitu luar biasa. Dalam keadaan senang atau sedih, tawa dan air mata, semuanya membuat saya kagum dan bangga. Membaca sirah beliau dalam berbagai versi, baik model berstruktur sejarah, tematik, atau novel, semuanya terasa luar biasa.

Ketika ada kisah ketika beliau tersenyum atau tertawa, saya rasanya ingin tertawa bersama beliau. Ketika beliau berurai air mata, saya rasanya ingin bersama-sama beliau berbagi kesedihan dan air mata. Ketika ada kisah tentang kepergian beliau, saya rasanya begitu kehilangan yang tak tergambarkan.

Namun rasanya saya malu sekali, ketika kembali menyadari betapa banyak sunah beliau, ajaran beliau, yang belum saya amalkan. Betapa sering saya mengaku cinta, tetapi melaksanakan ajaran yang paling sederhana pun belum saya lakukan. Ya Allah, berilah petunjuk kepada hamba-Mu ini.

Saya hanya berharap, suatu saat dapat mencium tangan beliau yang penuh berkah dan memandang wajahnya yang bercahaya. Mengikuti sunah beliau sebaik-baiknya, menjadi Muslim yang Kaffah. Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ‘ali Muhammad.

Jumat, 24 Desember 2010

Sebuah Profesi, Segenggam Idealisme

Apa ada kaitannya antara profesi dan idealisme? Jawabannya, tentu saja ada kaitannya.

Ketika berbicara tentang idealisme, mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah orang-orang yang militan, kaku, tegas, memegang prinsip-prinsip yang diyakininya, nilai-nilai, norma, aturan yang berlaku, moral, dan rasa keadilan. Bisa jadi memang demikian. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah orang-orang idealis akan tetap menjadi seorang yang idealis manakala harus berbenturan oleh berbagai kondisi dan kepentingan? Atau mereka akan menyerah pada keadaan?

Mungkin banyak diantara kita ketika masih sekolah atau kuliah adalah seorang idealis tulen. Selalu siap mengatakan yang benar kendati itu sering menyakitkan diri kita sekalipun. Sayangnya, idealisme itu seringkali hanya bertahan dalam kampus-kampus. Begitu keluar dari lingkungan sekolah / kampus, serta merta / gradual idealisme itu ditinggalkan. Alasannya sungguh mengenaskan : “Kita harus melihat kenyataan yang sesungguhnya. Tidak lagi berbicara di angan-angan. Tuntutan hidup menghendaki demikian”.

Alasan itu seakan-akan mengatakan bahwa apa yang mereka perjuangkan selama sekolah / kuliah hanyalah sebuah gagasan utopis, tidak berpijak pada kenyataan. Bahwa prinsip-prinsip yang mereka pegang selama ini adalah sebuah omong kosong, kata-kata muluk. Dan ini banyak kita jumpai sekarang ini. Betapa banyak pejabat negeri ini, yang terjerat berbagai kasus hukum, dulunya adalah para aktivis kampus, para idealis yang senantiasa menyuarakan, memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Hal ini sungguh tragis. Mestinya jika prinsip yang mereka pegang adalah kebenaran, maka sudah selayaknya hal itu dibawa sampai kapanpun. Bahkan sampai di tempat kerja, dimana banyak godaan yang menghendaki kita meninggalkan idealisme itu. Dan kalau boleh saya katakan, ada beberapa profesi / pekerjaan yang memang menuntut idealisme. Jika dalam ranah ini idealisme ditinggalkan, maka rusaklah inti / nilai dari profesi itu. Misalnya saja, guru, dokter, petugas keamanan, penegak hukum, wakil rakyat, birokrat, presiden.

Mereka-mereka ini, sejak awal memang sudah dituntut untuk menjadi seorang idealis. Bayangkan saja jika seorang guru mengkomersiilkan setiap ilmu yang diajarkan kepada muridnya, apa yang akan terjadi pada pendidikan kita? Atau, bagaimana jika para penegak hukum rela meninggalkan prinsip-prinsip keadilannya demi segepok uang, memperjualbelikan hukum? Yang terjadi adalah seperti yang kita lihat sekarang pada hukum di negeri kita ini.

Bayangkan pula jika seorang dokter hanya mau menolong pasien jika sang pasien sudah membawa uang sekian rupiah dulu. Apa yang akan terjadi pada pasien yang sedang sekarat? Dimana nilai moralnya? Atau bagaimana jika seorang presiden mau-maunya tunduk kepada kepentingan asing, tidak melihat kepada kepentingan rakyatnya, nasib rakyatnya. Akan jadi seperti apa negeri yang dipimpinnya?

Semua itu hanya gambaran, bahwa ada profesi-profesi tertentu yang lebih menuntut pengorbanan, menjunjung idealisme, daripada materi yang diperoleh. Maka akan sangat salah jika sekarang banyak pengangguran berbondong-bondong mengikuti CPNS, misalnya, karena ingin memperoleh gaji yang besar, dengan kerja yang tidak seberapa!! PNS adalah profesi yang penuh idealisme. Mereka adalah pelayan masyarakat. Mereka bukan majikan, tetapi pelayan!! Jadi jika tidak memiliki jiwa pengabdian, lebih baik tidak usah menjadi seorang PNS. Lihat saja sekarang ini, banyaknya “bisnisman” yang menjadi PNS telah menjadikan pelayanan publik berjalan dengan sangat buruk.

Memang sangat susah menjunjung idealisme di tengah kepungan kehidupan yang hedonis dan materi-oriented. Tetapi jika kita masih percaya kepada Keadilan Tuhan, harga diri yang tinggi, yakin kepada kebenaran, maka sudah selayaknya kita terus menggenggam idealisme itu. Apapun resikonya!

Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu ?

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu hari ada seorang sahabat bertanya pada Nabi SAW, “Ya Rasul, siapakah yang lebih layak aku muliakan?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Pertanyan itu diulang-ulang. Dan jawaban Rasulullah tetap sama sampai tiga kali. Baru kemudian yang keempat jawabannya adalah “Ayahmu”. Dalam hadist lain Rasulullah juga menyebutkan bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.

Yang kemudian menjadi pertanyaan saya adalah, ibu / wanita yang seperti apakah yang layak memiliki surga di bawah telapak kakinya?

Melihat kenyataan sekarang ini, betapa banyak ibu-ibu yang meninggalkan bayinya dengan sebotol susu kaleng demi mengejar kariernya. Atau tak mau menyusui putra-putri mungilnya karena tak ingin bentuk tubuhnya menjadi tidak ideal. Atau menjajakan tubuhnya di tepi-tepi jalan atau di tempat prostitusi dengan alasan ekonomi atau apapun itu (bahkan ini sudah dilakukan pula oleh para ABG!!!). Atau sengaja mengeksploitasi tubuhnya melalui berbagai media dengan bangganya.

Semua fakta ini, dan banyak fakta lainnya, menjadikan saya bertanya seperti di atas. Ditambah lagi, dalam suatu waktu, Rasulullah juga pernah mengingatkan para wanita agar banyak-banyak bersedekah, karena beliau mengetahui bahwa sebagian besar penghuni neraka adalah para wanita. Bagaimana hadist ini dikonfrontierkan dengan hadist tentang kemuliaan wanita yang tersebut di atas?

Pada dasarnya wanita memang memiliki kelemahan akal (bukan berarti bodoh). Dalam arti, wanita lebih banyak menimbang segala sesuatu dengan perasaannya, bukan akalnya. Padahal seringkali perasaan itu menipu. Perasaan membawa kesubjektifan. Akal membawa keobjektifan. Kesubyektifan ini menjadikan wanita mengukur segala sesuatu dari sudut pandang dirinya sendiri. Artinya, sesuatu bisa menjadi benar ketika hal itu “cocok” atau sesuai atau “sreg” dengan perasaannya. Dan menjadi salah ketika perasaannya mengatakan demikian. Bukan lagi berpatokan pada aturan yang berlaku, norma, atau pandangan umum manusia (objektif).

Banyak wanita tertipu oleh perasaannya, yang menjadikan dirinya tertipu pula oleh dunia. Menganggap dunia ini adalah surga. Memperturutkan hawa nafsunya (bukan berarti lelaki tidak). Inilah yang kemudian menjadikan wanita banyak yang masuk neraka. Dan Rasulullah menyarankan agar banyak-banyak bersedekah, supaya pahala sedekah itu dapat menutup dosa-dosanya.

Kita juga pernah mendengar, bahwa kesuksesan seorang lelaki tak lepas dari wanita di belakangnya, dan kemalangan seorang lelaki juga tak lepas dari wanita di belakangnya (yang kedua ini mungkin jarang kita dengar). Atau ungkapan lain, kokoh dan tegaknya suatu negara terletak di tangan wanita-wanitanya, dan kehancuran suatu negara juga terletak di tangan wanita-wanitanya. Ungkapan-ungkapan ini rasanya memang tepat. Wanita-wanita yang baik akan mempengaruhi lelaki-lelakinya untuk berbuat baik, dan begitu pula sebaliknya.

“Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang salihah” Begitu sabda Nabi SAW. Inilah kiranya wanita yang memiliki surga di telapak kakinya. Wanita salihah. Mereka adalah wanita-wanita yang mampu menjaga diri dan kehormatannya (dan kehormatan suaminya), menundukkan pandangan, menjaga lisan, mengingat Allah di setiap langkahnya, mengutamakan keluarganya di atas ambisi dan kepuasan pribadinya, menyayangi dan mencintai karena Allah.

Mereka-mereka ini tidak silau oleh segala keglamoran dunia yang menipu. Mereka punya keinginan-keinginan, tetapi mereka selalu menimbang dan mengukur atas dasar kebutuhan yang riil, ridha suami dan ridha Allah. Mereka memiliki jiwa altruisme yang tinggi. Mereka mendengarkan nurani mereka berbicara. Mereka meneteskan keringat dan air mata, mencurahkan cinta dan sayangnya untuk suami dan putra-putrinya, ayah dan ibunya. Mereka menciptakan generasi-generasi yang luhur dan bermental baja. Mereka mendengar, patuh, dan taat manakala diberi nasihat atau teguran. Mereka bukan wanita yang lemah dan pasrah. Mereka wanita yang tegar, kuat dan tabah menghadapi badai sekeras apapun, ombak sebesar apapun. Mereka adalah wanita yang senantiasa memohon kepada Allah di setiap shalatnya, kebaikan-kebaikan bagi keluarganya. Mereka melihat dengan mata hatinya. Mereka berpikir dengan qalbunya.

Mereka inilah wanita-wanita salihah. Mereka-mereka inilah yang diberi titipan surga oleh Allah di bawah telapak kakinya.

Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…
Ibu…
(Iwan Fals – Ibu)

Samantha dan Bonekanya

Samantha hanya tahu cara berlari. Kau tak akan bisa memegangnya. Ia bagaikan belut yang lincah berkelit. Tapi ia adalah seorang putri. Putri yang cantik. Dengan wajah merona dan selalu ceria. Rambut pendeknya dibiarkan morat-marit. Tapi ia tetap cantik. Jari lentiknya bergerak kesana kemari. Seperti halnya dirinya. Menari, berlarian. Mengikuti kemana angin berhembus.

Tapi ia pada suatu saat. Berhenti dari berlari. Duduk sambil memeluk bonekanya. Menggumam lirih. “Kita akhirnya akan berhenti di suatu titik. Dimana mimpi akan memudar. Dan yang tersisa adalah kenyataan. Kenyataan yang terkadang begitu mencekam. Bahkan seakan menghentikan aliran darah kita. Tetapi tetaplah titik itu. Ia ada ketika kita belum ada. Ia tetap ada ketika kita telah tiada.”

“Senyata-nyatanya kita memungkiri diri. Kita akan terhempas dalam kedalaman diri. Takkan bisa mengelak. Takkan sanggup menghindar. Seperti halnya kita tak bisa menolak hujan. Kendati kita membencinya. Kendati aku tak suka basah. Tapi ketika hujan datang, aku akan menari-nari di bawahnya.” Itu kata Samantha. Sambil memeluk bonekanya.

Boneka? Ya. Itu dia. Kau tak pernah tahu bukan kenapa dia selalu membawa bonekanya? Aku pun masih sering bertanya tentang itu. Tapi boneka itu selalu menemaninya. Ia berlari, atau berdiri, boneka itu ada. Ia bicara pada bonekanya. Seperti boneka itu punya nyawa. Seperti ia mengenalnya. Tapi bukankan Samantha memang mengenalnya?

Samantha. Gadis cantik berusia dua puluh-an. Ketika aku mengenalnya. Ia yang selalu menari. Berlarian di padang ilalang. Tak pernah lelah-lelahnya. Hanya berlari, menari, tertawa. Tak pernah ada kata. Kecuali waktu itu. Aku telah menceritakannya kepadamu. Dan itu membuatku heran. Dan terluka. Terluka karena melihatnya tampak terluka. Apakah Samantha terluka? Mungkin bonekanya yang tahu. Karena ia selalu bercerita boneka itu. Dengan pelukan. Dengan tatap mata.

Lalu di hari itu aku tak menemukan Samantha. Aku tak menemukannya di padang ilalang. Aku tak menjumpainya di gubuk dekat danau. Tempat dimana ia pernah berkata. Dalam gumamnya. Tiba-tiba aku merasa kehilangan. Bonekanya! Mungkin boneka itu yang membujuknya. Untuk pergi dariku. Untuk membiarkanku terkatung-katung mencarinya. Ya, pasti boneka itu. Boneka itu pasti telah membawa Samantha. Tapi kemana? Tapi kenapa?

Aku tak pernah menyakitinya. Kenapa ia meninggalkanku? Apa ia membenciku? Ah, tidak. Aku harap tidak. Aku tak mau Samantha membenciku. Aku ingin Samantha tahu, bahwa aku sangat perduli kepadanya. Tapi aku belum pernah mengatakannya. Bodohnya diriku. Kalau saja ada kesempatan lagi. Kalau saja aku bertemu lagi dengan Samantha. Aku tak akan membiarkannya pergi lagi dariku. Tak akan.

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Suara ibuku. Ah, ia memanggil namaku. “Samantha, kau disitu…?”